Fajar Radhitya Kusuma, seorang penumpang penerbangan yang menempuh rute Jakarta–Sydney dengan Garuda Indonesia, mengawali liburan Natal dan tahun barunya dengan pengalaman yang tidak menyenangkan. Pada Kamis, 25 Desember 2025, pesawat yang ditumpanginya mengalami turbulensi yang cukup parah menjelang pendaratan.
Menurut penuturan Fajar, guncangan terasa secara tiba-tiba saat penumpang sudah mengenakan sabuk pengaman untuk bersiap mendarat. “Turbulensi terjadi menjelang landing, dan kami mengalami penurunan ketinggian lebih dari 400 meter secara mendadak,” ujarnya melalui pesan singkat.
Panika pun melanda Fajar dan penumpang lainnya. “Saya merasa takut, panik, dan seolah blank di saat-saat itu,” tambahnya. Ia mengaku tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya, bahkan bersiap untuk kemungkinan terburuk.
Setelah guncangan pertama, Fajar mengantisipasi terjadinya turbulensi lanjutan. “Ada beberapa turbulensi kecil setelahnya, namun intensitasnya sangat minim,” katanya. Di media sosial Threads, Fajar melaporkan bahwa dua awak kabin mengalami patah tulang, meski klaim tersebut kemudian dibantah oleh pihak maskapai.
“Kejadian ini tidak diketahui oleh penumpang di bagian tengah dan depan pesawat,” ungkapnya. “Kami baru menyadari ada yang terluka setelah mendarat, ketika kokpit memberi pengumuman bahwa penumpang tidak boleh turun.” Pernyataan ini menambah kejelasan mengenai situasi yang sebenarnya terjadi.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa informasi mengenai kondisi awak kabin diperoleh dari salah satu petugas yang menjelaskan kepada penumpang. “Pernyataan tentang patah tulang itu saya sampaikan berdasarkan apa yang didengar dari petugas. Ini merupakan klarifikasi dari saya,” pungkasnya.
Pentingnya Kesadaran Terhadap Keamanan Penerbangan
Insiden seperti yang dialami Fajar mengingatkan kita akan pentingnya kesadaran terhadap keselamatan saat terbang. Turbulensi bisa terjadi kapan saja dan tidak terduga, sehingga penumpang diharapkan tetap tenang dan mengikuti instruksi awak kabin. Keselamatan adalah prioritas utama dalam penerbangan.
Pelatihan yang diberikan kepada awak kabin juga sangat penting dalam mengelola situasi darurat. Mereka dilatih untuk menghadapi berbagai skenario, termasuk turbulensi yang mendadak. Ini memberikan ketenangan bagi penumpang saat menghadapi kondisi yang mengejutkan.
Secara statistik, turbulensi memang bisa mengakibatkan luka, namun risiko ini bisa diminimalisir dengan mengikuti arahan yang diberikan. Penumpang yang menggunakan sabuk pengaman pada saat yang tepat dapat mengurangi kemungkinan cedera saat turbulensi terjadi. Sangat penting bagi setiap penumpang untuk selalu patuh pada instruksi keselamatan.
Reaksi Penumpang dan Dampak Emosional
Pengalaman turbulensi tidak hanya berimbas pada aspek fisik, tetapi juga dapat memberikan dampak emosional yang signifikan pada penumpang. Rasa panik dan ketidakpastian yang dialami bisa berlanjut bahkan setelah mendarat. Banyak penumpang yang merasakan trauma setelah mengalami turbulensi berat.
Fajar mencerminkan perasaan banyak orang yang merasa bingung dan cemas di saat-saat yang berbahaya seperti itu. “Kita tidak bisa memprediksi kapan turbulensi terjadi, dan saat itu rasanya seperti kehilangan kontrol,” ujarnya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya dukungan psikologis pasca kejadian serupa.
Dalam banyak kasus, penumpang mungkin membutuhkan waktu untuk pulih dari pengalaman tersebut. Beberapa bahkan merasa ragu untuk naik pesawat lagi atau berencana untuk mengambil langkah yang lebih hati-hati saat bepergian di masa depan. Ini adalah dampak yang patut dipertimbangkan oleh maskapai untuk meningkatkan pelayanan.
Upaya Pihak Maskapai dalam Menangani Kejadian Darurat
Pihak maskapai harus selalu siap dalam menangani insiden yang tidak terduga, termasuk turbulensi. Setiap kejadian harus diinvestigasi dengan saksama agar dapat menangani situasi serupa di masa depan. Pelatihan bertingkat bagi awak kabin sangat krusial dalam hal ini.
Selain itu, komunikasi yang efektif dengan penumpang pasca insiden juga begitu penting. Maskapai harus memberikan informasi yang jelas mengenai apa yang terjadi dan langkah-langkah yang diambil untuk memastikan keselamatan penumpang. Hal ini akan membantu membangun kepercayaan dan rasa aman bagi penumpang.
Dalam kasus Fajar, adanya klarifikasi mengenai kondisi awak kabin pun menjadi bagian penting untuk menjaga transparansi. Penumpang perlu mendapatkan informasi yang akurat agar tidak terjebak dalam kabar yang keliru. Kesadaran dan komunikasi yang baik dapat memperkuat hubungan antara maskapai dan penumpang.
